Tampilkan postingan dengan label sabun curah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabun curah. Tampilkan semua postingan

6/04/2010

Tips Memilih Sabun Cuci atau Deterjen


Makin banyak busanya, makin mantap, makin bagus, begitu kira kira image tentang sebuah sabun cuci yang berkualitas. Image sesat yang berhasil tertanam. Lagipula, kalau ngga banyak busa, rasanya ngga bersih… padahal… Busa itu korelasinya sangat kecil dibandingkan daya bersih.

Bersih nggaknya tergantung pada elemen yang disebut surfaktan. Busa itu menyebabkan pencemaran pada badan air, karena sulit terurai. Akibatnya? Sungai-sungai kita baunya apek sampai busuk karena suplai oksigen kurang. Sebabnya ya salah satunya karena busa yang menutupi permukaan air. Masalahnya, surfaktan ini juga menjadi biang kerok lain masalah lingkungan karena tidak mudah terurai oleh lingkungan.

Jadi… perhatikan surfaktan apa yang dipakai. LAS (Linear Alkylbenzene Sulfonat) atau LABS (Linear Alkyl Benzene Sulfonate) konon bisa terurai. ABS (AlkylBenzene Sulfonate) tidak bisa, dan sudah masuk daftar hitamnya Greenpeace. Jadi ibu ibu bapak bapak, untuk membuat gerakan cinta lingkungan ayah dan bunda menjadi makin maknyoss, bijaklah dalam memilih Sabun Cuci.

Memang sih sertifikasi di kita belum sempurna, tapi paling tidak kita melalukan upaya identifikasi yang simpel simpel aja (khusus yang awam). Buat yang pakar kimia, dimohonkan bantuannya untuk sumbang saran sabun cuci seperti apakah yang ramah lingkungan.

Tipsnya yaitu:

* Cari Sabun Cuci yang sedikit busanya. Dengan sedikit busa, air untuk membilas juga tidak perlu banyak.

* Cari sabun cuci dengan surfaktan yang bisa terurai. Seperti di atas, nama yang beken antara lain LAS/LABS.

* Cari sabun cuci yang jika sisa air cuciannya bisa untuk menyiram tanaman tanpa membuat tanaman mati – Cari sabun cuci yang rendah fosfat. Jikapun mengandung fosfat, sebisa mungkin digunakan untuk menyiram tanaman, karena fosfat itu tidak baik untuk badan air, tapi oke oke aja untuk tanah dan tanaman.

* Cari produk lokal. Dengan menggunakan produk lokal, kita meminimasi jejak karbon yang ditimbulkan dari transportasi Happy hunting!

akuinginhijau.org

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan: Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis - Indonesia

9/30/2009

Bisnis Penyewaan Mainan Anak

Zaman sekarang, orang tua umumnya cuma punya 1-2 anak. Mau beli mainan mahal, percuma karena tak ada yang "mewarisi". Kini, ada solusinya: sewa saja!

Baru Februai tahun silam pasangan Anita Rachman (28)-Ardian Wirawan (35) membuka usaha sewa mainan anak. Idenya, kata Anita, "Waktu anak kami, Michelle Arnetta (3), dapat hadiah mainan perosotan dari tantenya. Enggak baru, memang, tapi masih bagus. Dipakai bertahun-tahun, tetap bagus dan warnanya tak pudar," kata ibu muda yang tengah hamil anak kedua ini.

Pelajaran penting dipetik Anita. Mainan berkualitas bagus, bisa tahan lama. "Tapi umur pakainya juga tak lama karena begitu anak bosan atau makin besar, enggak terpakai lagi. Nah, kami jadi berpikir, oke juga bikin persewaan mainan anak," katanya saat ditemui di rumah merangkap kantor di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan.

Pasangan ini pun mulai cari-cari informasi. Termasuk berselancar di dunia maya. Di Singapura, Selandia Baru, dan Australia, bisnis macam itu sudah ada sejak lama dan menarik untuk ditekuni. "Saya telepon ke Australia, cari info. Saya banyak belajar dari mereka," kata Ardian, lulusan sekolah komputer di University of Southern Queensland, Australia.

Berkembang Sangat PesatAkhirnya, mereka merasa siap untuk memulai usaha dengan 30 jenis mainan anak. "Termasuk 10 buah punya anak kami. yang lain, istri yang memilih karena dia lebih pintar soal itu." Jadilah mereka menawarkan Sewa Mainan berupa ayunan, perosotan, mobil-mobilan, rumah kecil, hingga bak pasir dari Toko Mebel. "Konsumen bisa sewa 1-2 minggu. Mau lebih lama lagi, sampai anaknya bosan, boleh," kata Adrian sambil menyebut, harga sewa tergantung jenis mainannya. Mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah per jenis mainan

Usaha yang diberi nama Rent'n Play ini mereka iklanlan lewat berbagai media. "Kami juga rajin bagi brosur, datang ke acara yang dihari kaum ibu." Ternyata, sambutannya luar biasa. "Awalnya, mereka suka tanya soal kebersihan mainan. Bayangan mereka, mainan ini dipakai banyak orang. Kami yakinkan, kami punya standar. Setelah disewa, mainan kami cuci dengan Sabun Cuci sampai bersih, dimasukkan dalam kemasannya lagi, dan dikontrol kembali jika ada penyewa baru."

default.tabloidnova.com

Bisnis Penyewaan Mobil

Zaman sekarang, orang tua umumnya cuma punya 1-2 anak. Mau beli mainan mahal, percuma karena tak ada yang "mewarisi". Kini, ada solusinya: sewa saja!

Baru Februai tahun silam pasangan Anita Rachman (28)-Ardian Wirawan (35) membuka usaha sewa mainan anak. Idenya, kata Anita, "Waktu anak kami, Michelle Arnetta (3), dapat hadiah mainan perosotan dari tantenya. Enggak baru, memang, tapi masih bagus. Dipakai bertahun-tahun, tetap bagus dan warnanya tak pudar," kata ibu muda yang tengah hamil anak kedua ini.

Pelajaran penting dipetik Anita. Mainan berkualitas bagus, bisa tahan lama. "Tapi umur pakainya juga tak lama karena begitu anak bosan atau makin besar, enggak terpakai lagi. Nah, kami jadi berpikir, oke juga bikin persewaan mainan anak," katanya saat ditemui di rumah merangkap kantor di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan.

Pasangan ini pun mulai cari-cari informasi. Termasuk berselancar di dunia maya. Di Singapura, Selandia Baru, dan Australia, bisnis macam itu sudah ada sejak lama dan menarik untuk ditekuni. "Saya telepon ke Australia, cari info. Saya banyak belajar dari mereka," kata Ardian, lulusan sekolah komputer di University of Southern Queensland, Australia.

Berkembang Sangat PesatAkhirnya, mereka merasa siap untuk memulai usaha dengan 30 jenis mainan anak. "Termasuk 10 buah punya anak kami. yang lain, istri yang memilih karena dia lebih pintar soal itu." Jadilah mereka menawarkan Sewa Mainan berupa ayunan, perosotan, mobil-mobilan, rumah kecil, hingga bak pasir dari Toko Mebel. "Konsumen bisa sewa 1-2 minggu. Mau lebih lama lagi, sampai anaknya bosan, boleh," kata Adrian sambil menyebut, harga sewa tergantung jenis mainannya. Mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah per jenis mainan

Usaha yang diberi nama Rent'n Play ini mereka iklanlan lewat berbagai media. "Kami juga rajin bagi brosur, datang ke acara yang dihari kaum ibu." Ternyata, sambutannya luar biasa. "Awalnya, mereka suka tanya soal kebersihan mainan. Bayangan mereka, mainan ini dipakai banyak orang. Kami yakinkan, kami punya standar. Setelah disewa, mainan kami cuci dengan Sabun Cuci sampai bersih, dimasukkan dalam kemasannya lagi, dan dikontrol kembali jika ada penyewa baru."

default.tabloidnova.com